Published April 22nd, 2011 by

(Gagasmedia, 2006)

Novel bergenre teenlit yang diadaptasi dari skenario film Cewe Matrepolis. Bisa menduga dong ya, ini kisah tentang  kehidupan cewek-cewek kota yang materialistis. Filmnya tidak pernah saya tonton. Terus terang dari skenarionya, saya membayangkan ini jenis film yang saya hindari : gambaran kemewahan tak realistis, cerita  dangkal, cewek gendut yang menjadi lelucon. Ketika ditawari  penerbit untuk mengerjakannya, saya merasa ini jelas bukan saya banget! Tapi justru karena itulah sisi petualang saya tergelitik yaitu bagaimana saya bisa menggarap cerita yang sungguh jauh berbeda dari karakter saya. Menyelesaikannya dan memasukkan nilai –nilai yang saya percaya adalah tantangan utamanya.

Ada cerita lucu. Novel ini cukup laris di kota Pangkal Pinang, Bangka sehingga saya beserta aktor dan aktris filmnya datang  berkunjung sekaligus  untuk mempromosikan filmnya. Ketika sampai di sana, barulah kami sadar bahwa di kota ini belum ada bioskop. Akhirnya para bintang film  mesti puas hanya berpromo bukunya saja, yang belum mereka baca.

Published April 22nd, 2011 by

(Mediakita, 2006)

Novel ini berkisah tentang Bulan, mantan wartawati yang dipecat dari media tempatnya bekerja karena sikap kritisnya menolak pembubaran lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak.  Ia kemudian ingin menulis novel yang mengisahkan tentang pelacur. Di sisi lain terlalu lama berkecimpung dalam dunia yang menuntut fakta dan data membuat kering imaginasinya. Bulan kemudian melakukan metode observasi partisipatori yaitu menjalani proses menjadi pelacur sebagai sumber riset bagi novel yang ditulisnya.

Ada yang menganggap novel ini murni mencerminkan nilai-nilai yang saya anut, keyakinan saya,   ada yang menuding  ini pengalaman saya pribadi. Orang-orang ini mungkin akan mengadukan saya ke polisi jika lain waktu saya menulis cerita pembunuhan dari kacamata seorang pembunuh, karena meyakini bahwa seluruhnya adalah tentang  siapa saya sebenarnya.

Bagi saya fiksi adalah dunia satu juta satu kemungkinan, bukan sekadar hitam dan putih. Saya ingin membawa pembaca membayangkan suatu kondisi  ‘bagaimana jika’ . Itulah kenapa saya menjadi pencerita, bukan pengkhutbah atau motivator macam Mario Teguh.

Published April 22nd, 2011 by

(Pusat Data Analisa TEMPO/PDAT, 2005)

Buku ini ditulis tim PDAT ketika penyerangan terhadap Ahmadiyah mulai marak di Indonesia pada 2005 karena anggapan bahwa kelompok ini sesat. Suatu hal yang cukup aneh mengingat selama puluhan tahun jemaat Ahmadiyah sudah hidup di Indonesia dan segalanya berjalan damai-damai saja. Tim penulis berupaya memberikan gambaran yang berimbang mengenai sejarah masuknya Ahmadiyah ke Indonesia, bagaimana perkembangannya, seperti apa ajarannya dan apa yang membedakan dengan Islam sunni yang dianut oleh mayoritas Muslim di Indonesia. Selama proses penulisan, saya beribadah bersama mereka, menginap di rumah Dai Ahmadiyah dan menggali keyakinan mereka .

Saya menemukan bahwa tak ada perbedaan mencolok antara cara Jemaat Ahmadiyah beribadah dan muslim umumnya. Syahadatnya sama, kiblatnya ke Mekkah, kitabnya Al Quran. Bedanya mereka meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, tapi bukan nabi yang membawa syariat baru melainkan meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang mereka imani.

 

(Pusat Data Analisa TEMPO/PDAT, 2005)

Buku ini ditulis tim PDAT ketika penyerangan terhadap Ahmadiyah mulai marak di Indonesia pada 2005 karena anggapan bahwa kelompok ini sesat. Suatu hal yang cukup aneh mengingat selama puluhan tahun jemaat Ahmadiyah sudah hidup di Indonesia dan segalanya berjalan damai-damai saja. Tim penulis berupaya memberikan gambaran yang berimbang mengenai sejarah masuknya Ahmadiyah ke Indonesia, bagaimana perkembangannya, seperti apa ajarannya dan apa yang membedakan dengan Islam sunni yang dianut oleh mayoritas Muslim di Indonesia. Selama proses penulisan, saya beribadah bersama mereka, menginap di rumah Dai Ahmadiyah dan menggali keyakinan mereka .

Saya menemukan bahwa tak ada perbedaan mencolok antara cara Jemaat Ahmadiyah beribadah dan muslim umumnya. Syahadatnya sama, kiblatnya ke Mekkah, kitabnya Al Quran. Bedanya mereka meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, tapi bukan nabi yang membawa syariat baru melainkan meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW yang mereka imani.

Published April 22nd, 2011 by

Kisah Sukses  9 UKM Finalis Dji Sam Soe Award’

(Pusat Data Analisa TEMPO/PDAT, 2005)

Usaha Kecil Menengah (UKM ) adalah motor penggerak ekonomi Indonesia. Jika ada orang-orang yang membuat saya masih menaruh harapan pada bangsa ini, itulah para entrepreneur. Proses penulisan buku ini membawa saya pada para pengusaha UKM yang sangat menginspirasi . Bukan sekali dua mereka mengalami batu santungan dalam proses membangun usaha, namun mereka selalu berhasil bangkit lagi. Buku yang ditulis tim PDAT  ini menuturkan 9 kisah pelaku UKM tentang bagaimana membangun dan membesarkan bisnis mereka dan pelajaran apa yang dapat dipetik dari sana.

Published April 22nd, 2011 by

Gempa dan Tsunami:   Pemulihan Telekomunikasi di Nanggro Aceh Darussalam’

(Pusat Data Analisa TEMPO/PDAT, 2005)

Ini adalah pengalaman pertama saya terlibat dalam penulisan buku bersama tim riset PDAT. Buku ini adalah kerjasama PDAT dengan PT Telkom, Tbk untuk memotret pemulihan infrastruktur telekomunikasi yang rusak parah karena gempa dan tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004.  Saat itu telekomunikasi merupakan hal yang sangat vital untuk menghubungkan Aceh dengan dunia luar dan mesti dilakukan sangat urgen . Buku ini pun banyak mengisahkan  pengalaman pilu dan mengharukan karyawan Telkom dan keluarganya yang tinggal di Aceh, juga bagaimana langkah-langkah tim Telkom pusat bergerak sigap melakukan upaya-upaya rehabilitasi.

Published April 22nd, 2011 by

Ibarat  seorang teman, pre menstruation syndrom (PMS) adalah teman tersulit yang saya miliki. Tak terhitung jumlahnya saya pernah merutuki kehadirannya yang mempengaruhi fisik dan perasaan, mengacaukan hari-hari, membuat hal yang biasa saja jadi terasa buruk dan yang buruk jadi semakin buruk.

Saya tidak sendirian. Banyak perempuan lain juga mengalami gejala siklus bulanan yang sama. Entah bagaimana data persisnya, tapi American College of Obstetricians and Gynecologists memperkirakan setidaknya 85 % perempuan yang menstruasi mengalami sekurangnya 1 gejala PMS sebagai bagian dari siklus bulanan mereka. PMS terjadi sekitar 1-2 minggu sebelum menstruasi.

Beberapa gejala PMS yang kerap terjadi seperti :

  • Jerawat
  • Payudara membengkak/nyeri
  • Merasa lelah
  • Sulit tidur
  • Gangguan saluran pencernaan, kembung atau diare
  • Sakit kepala atau punggung
  • Perubahan selera makan atau ngidam makanan tertentu
  • Pegal-pegal otot
  • Sulit berkonsentrasi atau sering lupa
  • Tegang, mudah tersinggung,  berubah-ubah mood, gampang menangis
  • Cemas atau depresi

Saya pernah mengalami 7, bukan.  8 eh 9, hum ternyata semuanya L, Untungnya  tidak seluruhnya  pada saat bersamaan. Misalnya saat menulis ini saya sedang mengalami sekitar 4 dari gejala yang disebutkan di atas.

Di sisi lain, saya dan beberapa perempuan lain yang saya tahu kerap menjadikan PMS sebagai dalih melakukan hal-hal tertentu. Misalnya menjadi malas, mengingkari komitmen, atau ini yang paling sering saya lakukan, judes.  Kalau saya sedang PMS biasanya saya seperti dapat ‘pembenaran’ untuk bersikap bitchy atau jutek.  (saya bisa mendengar celetukan di ujung sana dari seorang teman, ah lo emang biasanya juga bitchy Feb).

Saat  inilah  PMS  jadi teman favorit. Cukup bilang saja PMS nanti orang-orang terlebih rekan laki-laki akan memahami dan bersikap lunak. Karena mereka tidak mengalami dan jadinya cenderung bersimpati saja. Maklumi lah dia judes lagi PMS, Maafkan pekerjaannya jadi nggak beres kan lagi PMS, dan lain semacamnya.  Padahal bisa jadi saya cuma sedang malas saja, dan sebetulnya tidak ada hubungannya dengan PMS kan? Tapi saya cukup bersembunyi di balik dalih PMS dan dunia pun berhenti menuntut saya memberikan yang terbaik.

Di satu sisi dalih ini sangat menggoda untuk sering-sering saya gunakan. Tapi kemudian saya cemas juga, bagaimana kalau kompetensi saya jadi diragukan karena saya perempuan dan mengalami PMS? Selain itu jika saya bisa menggunakannya sebagai dalih, kenapa perempuan lain tak bisa juga? Bagaimana kalau suatu hari rekan perempuan saya datang dengan ketus atau melempar tanggung jawab mendadak dengan alasan PMS?

Berbeda dengan rekan lelaki yang penuh simpati, saya akan lebih ‘tega’ dengan perempuan yang mengatakan PMS saat  performanya di bawah standar. Jangan manja deh lo, gue kan perempuan juga! (dengan ekspresi jutek). Apalagi kalau saat itu saya pun sedang PMS.

Akhir-akhir ini saya berusaha mengubah sudut pandang  melihat PMS. Bukan teman terkutuk, tidak juga  teman favorit  untuk berdalih.

PMS sebetulnya bisa diprediksi dengan mudah terlebih bagi saya yang siklusnya teratur. Saya bisa menandai di agenda setiap bulannya kapan waktu-waktu siaga PMS, sehingga sebelum itu tiba saya bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit terlebih dulu misalnya. Pada tanggal-tanggal itu, saya tahu saya bisa lebih siap dengan multivitamin dan kegiatan bersenang-senang.

Lebih sering terjadi, saya terlewat memprediksi dan melakukan langkah antisipatif itu. Lalu saya lupa bagaimana awalnya tapi tahu-tahu saya sudah berjerawat, mual, sakit kepala dan bersuasana hati mendung. Terlebih jika hidup memang tidak sedang mulus berjalannya.  Biasanya  dalam situasi itu pikiran negatif mulai mengintip sedikit-sedikit. Tiba-tiba terlintas di kepala saya, kenapa ya saya lambat sekali menyelesaikan pekerjaan? Kenapa seolah saya jadi lebih bodoh saat ini?

Stop.

Itulah satu hal yang  sedang saya praktikkan : membiarkan diri saya berhenti. Mengabaikan tuntutan pekerjaan sejenak selama belum sampai deadlinenya. Membiarkan diri saya berhenti berpikir. Menerima bahwa saya sedang merasa tidak enak tanpa perlu bertanya kenapa. Lambat, jerawatan, bodoh, so be it. So what gitu loh?  Apapun itu jadi lebih ringan kalau saya terima ketimbang saya lawan.

Saya pun bisa minta dukungan orang-orang di sekitar saya dengan jujur mengatakan bahwa saya sedang PMS. Tidak untuk memaklumi kejudesan atau pun kemalasan saya, tapi untuk mengingatkan bahwa itu bukan saya.  Bahwa saya lebih besar dari  gejala yang saya alami dan rasakan dan tetap bisa memberikan yang terbaik yang saya bisa kalau saya mau. Cara yang sama juga bisa saya lakukan ketika hal-hal berjalan di luar kehendak saya, atau  sekadar memiliki mood buruk meskipun itu bukan waktunya PMS.

PMS adalah teman yang melatih saya menerima diri sendiri, lengkap dengan jerawat, kebodohan dan keleletannya.  Seperti saat ini.