Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 22nd, 2011 by

(Niken saat tiba di Bandara Soekarno Hatta)

Niken Dewi Roro Mendut adalah seorang TKW yang berangkat ke Hail, Arab Saudi Maret 2010. Ia kerap mendapat siksaan dari majikannya dan berulang kali dipindahtangankan. Sempat putus kontak sama sekali dari keluarganya, adik-adiknya menulis email atas nama Ibu mereka yang kemudian saya temukan di milis Jurnalisme.

Di milis itu saya melihat orang-orang  mulai berkomentar, menyatakan rasa iba dan mendoakan Niken.

 

Saya tercenung. Teringat sebaris puisi karya teman lama: rasanya berdosa jika hanya berdoa.

Gelisah tapi merasa tak berdaya, saya coba menayangkan email itu di note FB dan mentag beberapa orang berjaringan luas dari mulai aktivis LSM, praktisi  media, sampai politisi. Kebetulan tak ada dari yang saya tag itu memberikan tanggapan. Namun beruntung note itu dibaca Mas Danto, wartawan Kontan dan Pak Harry Purnama dari Mature Leadership. Kebetulan Mas Danto telah berhasil memulangkan 2 TKW sebelumnya dan memahami jalur-jalur yang harus ditempuh. Sementara Pak Harry, penuh semangat dan kemauan untuk menjalankan misi kemanusiaan. Saya, kebagian menyulut api dan ngomporin aja :). Selanjutnya kami bekerjasama dengan Anik Andriani adik Niken yang tak kenal putus asa.
Setelah itulah proses upaya memulangkan Niken ini bergulir. Saat hujan pertama Desember  2010 turun, Niken sudah tiba di Jakarta dan langsung terbang ke Surabaya. Terimakasih untuk staf Deplu, Ibu Gita yang telah sangat mendukung kasus ini sejak awal pengaduan kami dan Alia Fitrati  yang mengurus prosesnya di bandara.

 

Hanya dibutuhkan satu orang, mulai dari satu langkah kecil, yang ternyata bisa membuat perbedaan untuk hidup Niken dan keluarganya ;  anak yang dicintai Ibu Bapaknya, Kakak yang disayangi adik-adiknya, Ibu yang dibutuhkan anak-anaknya.

 

Persoalan TKW memang begitu banyaknya yang belum tertangani,  sehingga orang mungkin bisa bertanya putus asa,  bagaimana dengan yang lainnya? Anda toh tak akan sanggup menolong semuanya kan?

 

Memang tidak, tapi kami membuat perbedaan untuk satu orang  ini.

Published April 22nd, 2011 by

(Gagasmedia, 2009)

Ini adalah kisah nyata tentang pengalaman seorang Ibu yang memiliki putri dengan gangguan pendengaran berat. Saya membantu menuliskan perjuangan San C Wirakusuma membesarkan dan mengajari Gwendolyne sampai bisa mendengarkan dan berbicara seperti anak normal. Buku ini sempat tampil di acara Kick Andy – Metro TV pada Oktober 2009. I can (not) Hear meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 yang diselenggarakan GoodReads Indonesia untuk kategori non fiksi.

Setelah mengerjakan buku ini, saya baru tersadar bahwa selama ini saya kerap abai tentang isu anak-anak dengan gangguan pendengaran maupun kebutuhan khusus lainnya. Padahal sedikitnya 5000 anak Indonesia terlahir tuna rungu setiap tahunnya.

Saat ini Gwen tumbuh menjadi anak cerdas, percaya diri dan luar biasa. Jika satu waktu bertemu dengannya, Anda tak akan menyangka bahwa ia terlahir tuna rungu!

 

(Gagasmedia, 2009)

Ini adalah kisah nyata tentang pengalaman seorang Ibu yang memiliki putri dengan gangguan pendengaran berat. Saya membantu menuliskan perjuangan San C Wirakusuma membesarkan dan mengajari Gwendolyne sampai bisa mendengarkan dan berbicara seperti anak normal. Buku ini sempat tampil di acara Kick Andy – Metro TV pada Oktober 2009. I can (not) Hear meraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 yang diselenggarakan GoodReads Indonesia untuk kategori non fiksi.

Setelah mengerjakan buku ini, saya baru tersadar bahwa selama ini saya kerap abai tentang isu anak-anak dengan gangguan pendengaran maupun kebutuhan khusus lainnya. Padahal sedikitnya 5000 anak Indonesia terlahir tuna rungu setiap tahunnya.

Saat ini Gwen tumbuh menjadi anak cerdas, percaya diri dan luar biasa. Jika satu waktu bertemu dengannya, Anda tak akan menyangka bahwa ia terlahir tuna rungu!

Published April 22nd, 2011 by

(Gagasmedia, 2008)

Ini adalah Model 101, hal-hal mendasar yang perlu diketahui oleh mereka yang ingin menjajal karir di dunia modeling.  Saya menerima tawaran mengerjakannya untuk bersenang-senang dan karena sedang kelebihan energi.  Tentunya dalam prosesnya saya pun belajar sesuatu. Antara lain, pengetahuan dan pengalaman seseorang  –seberapa pun banyaknya—akan sulit dimanfaatkan orang lain sebelum disampaikan secara deskriptif dan sistematis.  Kerap ada jurang besar antara ‘memiliki banyak’ dan ‘menyampaikan banyak’. Ini yang penting disadari semua orang yang ingin berbagi.

Dalam proses penulisannya–sekadar untuk menjaga semangat–  saya selalu membayangkan ada seorang gadis belasan tahun di suatu tempat yang  sedang mengejar cita-citanya menjadi seorang model. Ia mungkin melakukannya untuk misi besar menopang kehidupan keluarganya atau misi sederhana ingin membuktikan kepada teman-teman yang meremehkannya bahwa ia bisa. Buku itu saya persembahkan untuknya.

Published April 22nd, 2011 by

(Gagasmedia,2007)

Menulis novel dari lirik lagu adalah gagasan eksperimental buat saya. Fun, playful dan hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.  Gerimis adalah salah satu  lagu dari album Sepenuh Hati grup band Senyawa. Sayangnya, promosi  band  kurang tergarap optimal sehingga kalangan tertentu saja yang mengenalnya.

Saya sebagai penulis dibebaskan mengembangkan cerita selama cocok dengan lirik lagu yang diadaptasi.  Dari aspek lirik, lagu ini sangat ringan tanpa diksi  ‘istimewa’.  Di sisi lain buat saya melodinya  manis dan easy listening.  Entah berapa puluh kali saya memutar Gerimis sepanjang mengerjakan novelnya dan tidak merasa bosan.  Saya membayangkan  orang bisa mendapatkan atmosfer serta pengalaman  yang selaras ketika membaca novelnya dan mendengarkan lagunya,  atau melakukannya bersamaan. Eksperimen yang layak dijalani, salah satu proses kerja yang paling saya nikmati.

Published April 22nd, 2011 by

(Gagasmedia 2007)

Ini adalah adaptasi dari skenario film horor berjudul sama bercerita tentang lantai misterius di sebuah gedung yang memakan banyak korban.  Sebagaimana film horor yang  kerap tinggi jumlah penontonnya, buku ini terhitung cukup laris, menandakan pembaca masih berminat pada tema-tema horor. Sampai sekarang saya belum pernah menonton film ini. Bukan hanya memang takut menonton horor,  tapi karena kebanyakan film horor Indonesia relatif  lemah di sisi cerita dan cenderung membodohi penonton. Seolah mereka cukup puas dengan muka seram dan musik mengagetkan (apa daya, sebagian memang demikian)

Mengerjakan buku adaptasi seperti  ini  merupakan tantangan tersendiri untuk  saya. Pertama dari segi tenggat yang sangat ketat karena mengejar momen tayang film di bioskop. Yang kedua, bagaimana saya mengembangkan cerita, melengkapi lubang-lubang logika, dan menciptakan alur yang masuk akal.