Love and Hate relationship with My PMS

Ibarat  seorang teman, pre menstruation syndrom (PMS) adalah teman tersulit yang saya miliki. Tak terhitung jumlahnya saya pernah merutuki kehadirannya yang mempengaruhi fisik dan perasaan, mengacaukan hari-hari, membuat hal yang biasa saja jadi terasa buruk dan yang buruk jadi semakin buruk.

Saya tidak sendirian. Banyak perempuan lain juga mengalami gejala siklus bulanan yang sama. Entah bagaimana data persisnya, tapi American College of Obstetricians and Gynecologists memperkirakan setidaknya 85 % perempuan yang menstruasi mengalami sekurangnya 1 gejala PMS sebagai bagian dari siklus bulanan mereka. PMS terjadi sekitar 1-2 minggu sebelum menstruasi.

Beberapa gejala PMS yang kerap terjadi seperti :

  • Jerawat
  • Payudara membengkak/nyeri
  • Merasa lelah
  • Sulit tidur
  • Gangguan saluran pencernaan, kembung atau diare
  • Sakit kepala atau punggung
  • Perubahan selera makan atau ngidam makanan tertentu
  • Pegal-pegal otot
  • Sulit berkonsentrasi atau sering lupa
  • Tegang, mudah tersinggung,  berubah-ubah mood, gampang menangis
  • Cemas atau depresi

Saya pernah mengalami 7, bukan.  8 eh 9, hum ternyata semuanya L, Untungnya  tidak seluruhnya  pada saat bersamaan. Misalnya saat menulis ini saya sedang mengalami sekitar 4 dari gejala yang disebutkan di atas.

Di sisi lain, saya dan beberapa perempuan lain yang saya tahu kerap menjadikan PMS sebagai dalih melakukan hal-hal tertentu. Misalnya menjadi malas, mengingkari komitmen, atau ini yang paling sering saya lakukan, judes.  Kalau saya sedang PMS biasanya saya seperti dapat ‘pembenaran’ untuk bersikap bitchy atau jutek.  (saya bisa mendengar celetukan di ujung sana dari seorang teman, ah lo emang biasanya juga bitchy Feb).

Saat  inilah  PMS  jadi teman favorit. Cukup bilang saja PMS nanti orang-orang terlebih rekan laki-laki akan memahami dan bersikap lunak. Karena mereka tidak mengalami dan jadinya cenderung bersimpati saja. Maklumi lah dia judes lagi PMS, Maafkan pekerjaannya jadi nggak beres kan lagi PMS, dan lain semacamnya.  Padahal bisa jadi saya cuma sedang malas saja, dan sebetulnya tidak ada hubungannya dengan PMS kan? Tapi saya cukup bersembunyi di balik dalih PMS dan dunia pun berhenti menuntut saya memberikan yang terbaik.

Di satu sisi dalih ini sangat menggoda untuk sering-sering saya gunakan. Tapi kemudian saya cemas juga, bagaimana kalau kompetensi saya jadi diragukan karena saya perempuan dan mengalami PMS? Selain itu jika saya bisa menggunakannya sebagai dalih, kenapa perempuan lain tak bisa juga? Bagaimana kalau suatu hari rekan perempuan saya datang dengan ketus atau melempar tanggung jawab mendadak dengan alasan PMS?

Berbeda dengan rekan lelaki yang penuh simpati, saya akan lebih ‘tega’ dengan perempuan yang mengatakan PMS saat  performanya di bawah standar. Jangan manja deh lo, gue kan perempuan juga! (dengan ekspresi jutek). Apalagi kalau saat itu saya pun sedang PMS.

Akhir-akhir ini saya berusaha mengubah sudut pandang  melihat PMS. Bukan teman terkutuk, tidak juga  teman favorit  untuk berdalih.

PMS sebetulnya bisa diprediksi dengan mudah terlebih bagi saya yang siklusnya teratur. Saya bisa menandai di agenda setiap bulannya kapan waktu-waktu siaga PMS, sehingga sebelum itu tiba saya bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan sulit terlebih dulu misalnya. Pada tanggal-tanggal itu, saya tahu saya bisa lebih siap dengan multivitamin dan kegiatan bersenang-senang.

Lebih sering terjadi, saya terlewat memprediksi dan melakukan langkah antisipatif itu. Lalu saya lupa bagaimana awalnya tapi tahu-tahu saya sudah berjerawat, mual, sakit kepala dan bersuasana hati mendung. Terlebih jika hidup memang tidak sedang mulus berjalannya.  Biasanya  dalam situasi itu pikiran negatif mulai mengintip sedikit-sedikit. Tiba-tiba terlintas di kepala saya, kenapa ya saya lambat sekali menyelesaikan pekerjaan? Kenapa seolah saya jadi lebih bodoh saat ini?

Stop.

Itulah satu hal yang  sedang saya praktikkan : membiarkan diri saya berhenti. Mengabaikan tuntutan pekerjaan sejenak selama belum sampai deadlinenya. Membiarkan diri saya berhenti berpikir. Menerima bahwa saya sedang merasa tidak enak tanpa perlu bertanya kenapa. Lambat, jerawatan, bodoh, so be it. So what gitu loh?  Apapun itu jadi lebih ringan kalau saya terima ketimbang saya lawan.

Saya pun bisa minta dukungan orang-orang di sekitar saya dengan jujur mengatakan bahwa saya sedang PMS. Tidak untuk memaklumi kejudesan atau pun kemalasan saya, tapi untuk mengingatkan bahwa itu bukan saya.  Bahwa saya lebih besar dari  gejala yang saya alami dan rasakan dan tetap bisa memberikan yang terbaik yang saya bisa kalau saya mau. Cara yang sama juga bisa saya lakukan ketika hal-hal berjalan di luar kehendak saya, atau  sekadar memiliki mood buruk meskipun itu bukan waktunya PMS.

PMS adalah teman yang melatih saya menerima diri sendiri, lengkap dengan jerawat, kebodohan dan keleletannya.  Seperti saat ini.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *