Mencatat kehidupan, Merawat Ingatan

Apakah yang terjejak dari suatu perjalanan ?

Pada akhirnya, adalah sekumpulan ingatan tentang kejadian, sensasi indrawi  dan baur perasaan. Perjalanan saya menyusuri Berlin dan beberapa kota lain di Jerman beberapa waktu lalu  membuat saya merenung tentang betapa berharganya memelihara dan merawat ingatan.

Ingatan kerap menjelma makhluk yang licin. Ia bisa memperdaya, mengaburkan apa yang sebenarnya kita alami dengan apa yang kita yakini kita alami. Mengaburkan detil-detil yang perlu. Mendesakkan serpihan fakta ke sudut-sudut benak.   Habis ingatan, terbitlah lupa.

Manusia melakukan berbagai cara untuk melawan lupa. Semua orang pernah mengalami lupa dan tahu itu bisa jadi bencana.  Di tingkat individu, lupa memiliki dampak dengan rentang yang luas, mulai dari sekadar gusar, hingga membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Lupa secara kolektif, seperti yang kerap terjadi di Indonesia bisa menjadi petaka bagi masa depan bangsa. Figur-figur yang telah bertindak zalim, masih berani mengajukan diri menjadi pejabat publik, karena orang lupa pada kesalahan yang mesti mereka pertanggungjawabkan. Sejumlah kasus pelanggaran HAM seolah terkubur, dan para pelaku utamanya masih dapat melenggang bebas tanpa sanksi. Ya, itulah bahaya nyata dari lupa.

Bagi bangsa Jerman nampaknya ingatan adalah harta yang sangat berharga. Ini terlihat dari segala daya upaya mereka merawat sejarah dengan apik. Di Berlin saja, ada lebih dari 170 museum dan galeri yang tentu tidak murah biaya pemeliharaannya, padahal cukup banyak yang dapat dimasuki  gratis. Dan cara mereka memelihara ingatan buruk setara dengan cara mereka menghargai ingatan baik.

Holocaust, pembantaian jutaan orang Yahudi dan kelompok lain yang dibenci Nazi adalah luka bagi banyak warga Jerman. Di sini, kita mungkin bisa enteng mencandai Jerman sebagai ‘negara Hitler’. Tapi kata-kata itu mungkin dapat menyakiti teman Jerman kita. Bisa dibayangkan, tidak mudah menerima kenyataan bahwa di masa lalu, bangsa kita membunuh jutaan orang hanya karena ras mereka, dan seluruh dunia mencatatnya.  Itu aib sejarah yang mesti mereka tanggung sepanjang masa. Generasi muda mereka pun menggugat generasi sebelumnya, terlebih yang  seharusnya bisa menjadi bagian dari perubahan saat itu. Mengapa kalian diam saja? Mengapa kalian membiarkan kekejaman genocide itu terjadi?

Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, dan Jerman tampak menyadari hal itu.  Betapapun kelam bagian tertentu dari sejarah mereka sebagai bangsa, mereka tidak hendak melenyapkan ingatan yang menyakitkan itu.

“Wow, untuk sejarah yang mereka malu mengingatnya saja, begitu sungguh-sungguh mereka memeliharanya!” ujar Anuradha, rekan saya seorang wartawan dari Calcutta, India saat kami mengunjungi Sachsenhausen Memorial and Museum di Oranienburg, 35 km dari Berlin.

Sachsenhausen dulunya adalah salah satu kamp konsentrasi yang utamanya digunakan menyekap tahanan politik. Sedikitnya ada 200 ribu orang yang pernah ditahan di sana dari tahun 1936 hingga pertengahan 1945. Saat kamp ini ditutup pada musim semi 1950, ditemukan lebih dari 12 ribu mayat korban yang tewas karena kondisi kurang gizi maupun penyakit.

Setelah reunifikasi Jerman, kamp ini dijadikan museum dan galeri. Beberapa bangunan masih bertahan atau direkonstruksi ulang, termasuk menara pengawas, oven krematorium tempat membunuh para tahanan, barak tempat tahanan harus tinggal berdesakan dan gerbang masuk lengkap dengan slogan yang terasa sinis Arbeit Macht Frei—kerja akan membebaskan dirimu mengingat bagaimana ribuan orang Yahudi harus bekerja paksa yang tak jarang mengantarkan mereka pada maut.

Di museum ini Anda dapat melihat bagaimana detilnya mereka merawat kenangan.  Anda bisa memiliki bayangan tentang seperti apa hidup para tahanan saat itu melalui berbagai foto, dokumen dan artefak, seperti baju penjara dan alat-alat kerja paksa yang digunakan para tahanan.

Kisah-kisah  kekejaman kamp konsentrasi sudah begitu sering kita dengar baik dari dokumentasi sejarah maupun dituangkan ke dalam medium fiksi. Namun menjejakkan kaki di atasnya, merabai dinding barak berwarna abu-abu dan menghirup aroma apak ruang tahanan, akan membuat Anda merasa lebih dekat lagi dengan kisah hidup ratusan ribu anak manusia yang pernah berada di sana dengan segala kepedihan dan sisa-sisa harapan.

Salah satu yang paling mengharukan adalah sebuah surat yang ditemukan pada tahun 2003 oleh seorang pekerja yang sedang merenovasi bangunan.  Saat hendak meruntuhkan sebuah dinding partisi di lantai dasar, di antara pecahan kaca, sang pekerja menemukan kertas lapuk berwarna kekuningan.   Surat itu ditulis Anton Engeraman yang lahir 6 Oktober 1902.

Aku ingin kembali ke rumah lagi. Sejak 9 Maret 1937 aku berada di kamp konsentrasi Sachsenhausen. Hari ini adalah 19 April 1944. Kapankah aku bisa bertemu kekasihku di Frechen Cologne, meski hanya sekali lagi ? Tapi semangatku tak terpatahkan. Hal-hal akan menjadi lebih baik…”

Surat yang kembali mengingatkan saya. Ada seribu satu cerita yang unik dan sangat pribadi di balik setiap jiwa. Dan betapa cinta dan harapan masih dapat dihidupkan, bagaimanapun buruknya situasi yang dihadapi seseorang, meski akhirnya pun ia tak dapat bertahan.

Untuk menghidupkan ingatan akan sebanyak mungkin korban Holocaust, ada beberapa cara yang dilakukan. Di antaranya bisa ditemukan di beberapa sudut kota Berlin, yaitu tulisan nama-nama korban pada lempeng logam yang ditanam di jalan. Hal serupa—mengabadikan nama korban dan tempat terbunuhnya juga sempat saya temui di Hamburg. Semua memberikan pesan betapa setiap korban patut dihormati dan dikenang.. Tak semua korban bisa terabadikan. Tapi setiap nama yang diukir setidaknya menjadi upaya mengingatkan ia bukan hanya angka. Nyawanya bukan sekadar menambah satu lagi garis turus pada data statistik. Di balik nama itu ada segenap cerita perjalanan, cinta dan perjuangan anak manusia.

Bangunan yang juga sempat saya kunjungi adalah Deutscher Bundestag atau Gedung Parlemen Jerman. Gedung  yang berdiri  pada 1894 ini  pernah dibakar dan diduduki pasukan Rusia pada masa Perang Dunia II. Jika sempat bertandang ke Bundestag, Anda akan melihat bagian dinding yang penuh berisi coretan ekspresi curhat, seperti yang kerap dilakukan pemuda iseng di belahan dunia manapun. Ya, inilah ungkapan ekspresi para tentara Rusia ketika ditugaskan di Jerman. Bahkan coretan-coretan yang juga tak bernilai estetik ini sengaja dipertahankan tetap ada di sebuah gedung yang sangat penting dan berwibawa untuk suatu negara.

Masih banyak lagi cara bangsa Jerman mengabadikan sejarah yang mudah membuat kita terpukau.  Mereka mengumpulkan sekecil apapun yang tersisa baik serpihan benda maupun keping cerita yang dapat digunakan untuk merekonstruksi sejarah dan melindunginya tergilas lekang waktu.

Melihat bagaimana rapi dan apiknya bangsa Jerman merawat ingatan akan sejarah kelam mereka, mau tak mau membuat saya bercermin tentang negeri sendiri. Bagaimanakah Indonesia menghadapi sejarah kelamnya? Apakah orang Indonesia termasuk saya sendiri, sudah mampu menatap borok di muka, tanpa harus meretakkan cerminnya? Ataukah kita berusaha meredamnya, dan berharap dengan tidak membicarakannya terang-terang, waktu akan menguburnya begitu saja?

Pertanyaan itu mendesak jantung saya lebih kuat saat menjejakkan kaki di instalasi Memory Void di Jewish Museum Berlin. Ini adalah suatu jalur yang diisi 10 ribu lempengan besi menyerupai muka manusia dalam beragam ukuran. Pengunjung dipersilakan berjalan di atasnya, menginjak wajah-wajah itu hingga menimbulkan suara besi bergesekan yang memekakkan telinga, seolah menjadi pesan tegas untuk tidak pernah mengabaikan suara mereka.  Menashe Kadishman, seniman Israel mempersembahkan karya ini bukan hanya untuk orang Yahudi yang menjadi korban Holocaust, tapi kepada semua korban kekerasan dan perang.

Saya pun tak bisa tak teringat korban kekerasan di tanah air sendiri, yang begitu banyak jumlahnya, dan jarang jelas siapa yang harus bertanggung jawab atasnya.

Salah satu yang paling mencolok dalam sejarah kita adalah pembantaian dan penahanan jutaan orang di seluruh Indonesia yang dituding sebagai anggota Partai Komunis Indonesia pada 1965 dan pembiaran kolektif yang terjadi setelahnya. Selama rezim orde baru, cerita-cerita ini memang diredam sedemikian rupa. Di era reformasi, fakta-fakta sejarah masa lampau mulai kembali digali dan para korban yang masih hidup pun mulai berani bersuara. Namun tampaknya masih harus menunggu untuk sikap yang lebih tegas dari pemerintah berupa permintaan maaf resmi dan pemberian kompensasi atas kerugian materil dan immaterial yang dialami para korban dan keluarganya.

Upaya Komnas HAM melakukan penyelidikan terhadap peristiwa 1965 patut mendapat apresiasi tinggi. Setelah melakukan penelusuran sejak 2008 dan mengumpulkan keterangan lebih dari 300 saksi di seluruh Indonesia, Komnas HAM menyimpulkan terdapat bukti permulaan yang cukup akan terjadinya pelanggaran HAM berat sepanjang 1965-1966, antara lain pembunuhan, penganiayaan, perkosaan, perbudakan.  Seorang politisi mengomentari hasil temuan ini dengan “ya sebenarnya hal ini sudah menjadi rahasia umum” . Namun tampaknya banyak orang Indonesia seperti saya, yang menyadari ada sesuatu yang salah di sekitarnya tapi tidak melakukan banyak hal untuk mengubahnya.

Dari sekadar rahasia umum berubah statusnya menjadi temuan resmi yang akan diproses secara hukum. Mungkin masih cukup jauh mengharapkan bangsa ini bisa secara sejati mengakui peristiwa 1965 sebagai bagian kelam, lalu mereka-ulang sejarah untuk memastikan kejahatan kemanusiaan itu tak lagi terulang.  Namun penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM merupakan langkah yang penting untuk mengembalikan ingatan bangsa ini yang amat mudah tergerus gelombang peristiwa yang terus menerpa.

Ya ingatan adalah makhluk yang licin. Jika kita tak cepat menangkapnya, ia akan tergelincir dan melesat dengan mudah dari genggaman. Padahal manusia yang tidak belajar dari sejarahnya, hanya akan jatuh di lubang yang sama dua kali.

Perjalanan saya kali ini, kembali menyadarkan saya betapa pentingnya manusia mencatat kehidupannya. Lupa memang mekanisme alamiah manusia yang tak terhindarkan, namun merawat ingatan –baik maupun buruk—menjadikan kita sebagai manusia yang siap menerima diri seutuhnya dan belajar dari masa lalu. Lebih dari itu, juga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi manusia lain dan generasi penerusnya.

Apa yang tersisa dari suatu kehidupan?

Pada akhirnya adalah sekumpulan ingatan, tentang peristiwa, orang-orang dan hal-hal yang kita temukan di antaranya. Sesuatu yang kerap kita namakan pengalaman. Mencatat dan merawat ingatan adalah cara sederhana kita meninggalkan warisan.

Dan menjadikan kita mendekat pada keabadian.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *