Hidup Abadi Lewat Kata

Aku menulis buku, agar saat aku mati ada bagian diriku yang tetap hidup. Begitu ucap Oriana Fallaci, penulis dan jurnalis terkenal dari Italia. Dan harapan itu niscaya akan terwujud segera setelah kanker payudara, yang menggerogotinya bertahun-tahun, memenangkan pertarungan atas dirinya, 15 September  2006.

Memulai karier jurnalistik di usia 16 tahun, Fallaci dikenal sebagai wartawan perang. Delapan tahun dari usianya ia habiskan untuk meliput Perang Vietnam. Hasilnya adalah sebuah buku Nothing, dan So Be It (1969), yang hingga kini masih terjual laris. Fallaci juga terjun meliputi konflik di Mexico, dan sempat cedera karenanya, lalu menjadi koresponden untuk meliput Perang Irak-Kuwait di usia 61.

Fallaci juga terkenal sebagai political interviewer yang kontroversial. Saat mewawancara para pemimpin dunia, ia kerap berlaku bak interogator yang tak kenal ampun. Ia mengajak Kissinger berdebat tentang perang Vietnam. Ia membuka cadarnya di depan Khomeini, padahal itulah syarat jika ia ingin bertemu dengan pemimpin Iran itu.

Gaya Fallaci itu mengundang kontroversi di dunia jurnalistik. Sementara mayoritas jurnalis percaya bahwa kerja-kerja kewartawanan mesti dilakukan secara obyektif dan netral, ia malah mengedepankan subyektivitas dan keberpihakan.

 

Klik untuk terus membaca

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *