Mati

Musim semi adalah saat terbaik untuk mati. Bisa jadi, dalam hasrat bunuh dirinya, masih terlintas di benak José María Arguedas untuk merancang hari kematian yang puitis. Ia mungkin sengaja memilih 2 Desember 1969, saat bunga-bunga justru bermekaran di kota tempat tinggalnya di Lima, Peru.

Di usia 58 tahun, novelis, penyair, dan antropolog ini menembak dirinya sendiri dalam sebuah ruang kelas kosong di universitas tempatnya mengajar. Dalam suratnya, salah satu alasan yang membuatnya memilih mati adalah perasaan bahwa kariernya sebagai penulis telah tamat. Sebab, ia merasa tak lagi memiliki daya kreatif.

Ia hanya satu dari daftar panjang. Memang, pekerja kreatif lainnya seperti musisi pun rentan terhadap potensi bunuh diri. Tapi ada dugaan, dibandingkan seniman lain, penulis lebih mudah tergoda untuk bunuh diri, sebagai bukti kemampuan mengontrol jalan hidup mereka. Bukankah indah jika bisa merancang kapan momen terindah untuk meninggalkan dunia ini?

Dari waktu ke waktu, sejarah telah mencatat begitu banyak penulis yang memilih bunuh diri. Di wikipedia kita bisa menemukan sekitar 400 nama, jumlah yang masih bertambah dari waktu ke waktu. Daftar ini mulai dari penulis yang karyanya sudah jadi klasik seperti Hemingway, Virginia Wolf, Sylvia Plath, sampai Hunter S. Thompson, pelopor tulisan jurnalistik dengan sudut pandang orang pertama yang masih aktif menulis sampai era 2000-an.

Klik untuk terus membaca

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *