Lamban

“Resolusiku tahun ini adalah berhenti membeli buku dan lebih banyak membacanya,” kata wartawan dan penyair Rita Achris suatu kala kepada saya.

Saya terkekeh. Setuju. Pernyataan teman tadi ternyata persis benar dengan apa yang berkecamuk di kepala saya. Sudah sebulan terakhir ini saya puasa membeli buku. Pameran yang baru berlalu sengaja tak saya hampiri, karena ngeri akan kebiasaan belanja buku saya yang tak bekerja berdasarkan deret ukur. Padahal, kemampuan membaca saya hanya berkembang seiring deret hitung. Hasilnya, di rak buku saya sedikitnya ada 20 buku yang belum saya baca tandas (Percayalah pembaca, jumlah mengerikan ini pun sudah saya korting besar-besaran).

Karena itu, ketika membaca ulasan mengenai buku yang kini sedang menghiasi daftar best seller di Prancis, Comment parler des Livres que l on n a pas lus (Bagaimana bicara tentang buku yang belum pernah Anda baca), saya terkejut. Saya merasa mempunyai teman. Ternyata di benua seberang sana ada seorang penulis yang begitu penuh pengertian perihal keadaan saya, pembaca yang lamban ini.

Klik untuk terus membaca

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *