Dalih

Manusia memang makhluk yang suka berdalih. Tapi ada tiga kelompok yang paling ahli melakukannya: pengacara, pengutang, dan orang yang ingin menulis.

Pengacara dibayar karena kemampuannya berdalih. Pengutang menggunakan kemampuan yang sama untuk menghindari kewajiban membayar. Sepertinya hanya kelompok ketiga yang tak memperoleh apapun dari berdalih, selain tentu saja perasaan gagal dan semakin tidak berdaya.

Begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis.

“Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis.” (ini dalih paling populer)

“Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu.” (ini dalih khas dunia modern)

“Saya tidak punya laptop. Masa’ sih saya harus mengetik di rental yang panas? Selalu muter lagu Rhoma Irama lagi.”(ini dalih generasi melek teknologi)

Hilang mood, writer’s block, kurang fasilitas, tak punya waktu hanyalah cara untuk menghindari menulis. Kita sebenarnya tahu bahwa mood seringkali terbentuk justru setelah berlembar-lembar halaman kosong itu mulai terisi, bukan sebaliknya. Sudah banyak tips menulis yang mengatakan demikian. Tapi tetap saja alasan generik sekaligus paling bisa dimaklumi dimanfaatkan. Persis seperti penduduk Jakarta yang menjadikan macet sebagai dalih keterlambatan.

Klik untuk terus membaca

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *