Published May 4th, 2011 by

Bayangkan hal seperti ini terjadi pada Anda.

Suatu pagi Anda terjaga dari tidur. Entah apa yang membangunkan Anda. Mungkin kicau burung atau belaian sinar matahari pagi dari kisi jendela. Atau juga kerongkongan kering yang menuntut aliran air. Anda ingin bergegas bangkit. Mengambil minum, kemudian membuka jendela dan menyapa riang burung yang sudah bernyanyi untuk Anda. Ternyata Anda tak bisa bergerak. Otak memerintahkan tubuh Anda dengan berbagai cara. Tapi tubuh Anda hanya terkulai tak berdaya.

Itulah yang dialami Jean-Dominique Bauby, pemimpin redaksi sebuah majalah fashion kenamaan di Prancis, Elle. Setelah koma 20 hari akibat serangan stroke pada 8 Desember 1995, ia sadar secara bertahap sampai pada akhir Januari 1996 bisa sadar sepenuhnya.

Pikirannya jernih, ia mampu menyerap sekelilingnya, namun sekujur tubuhnya nyaris lumpuh total. Locked-in-Syndrom, demikian nama penyakit langka ini. Stroke telah merusak batang otaknya. Praktis seluruh hidupnya mulai dari bernapas, makan, buang air tergantung pada berbagai peralatan dan pertolongan orang lain.

Tak ada gerak kehidupan yang tersisa padanya, kecuali satu: mata kiri yang bisa mengedip. Maka dengan cara itulah ia berhubungan dengan orang-orang di sekelilingnya. Misalnya, satu kedipan untuk iya, dua kedipan untuk tidak. Namun dengan cara berkomunikasi yang sangat terbatas ini, Bauby berhasil menulis buku memoarnya Le Scaphandre et le Papillon(The Diving Bell and Butterfly) setebal 130 halaman.

Klik untuk membaca lebih lanjut

Published May 4th, 2011 by

Aku menulis buku, agar saat aku mati ada bagian diriku yang tetap hidup. Begitu ucap Oriana Fallaci, penulis dan jurnalis terkenal dari Italia. Dan harapan itu niscaya akan terwujud segera setelah kanker payudara, yang menggerogotinya bertahun-tahun, memenangkan pertarungan atas dirinya, 15 September  2006.

Memulai karier jurnalistik di usia 16 tahun, Fallaci dikenal sebagai wartawan perang. Delapan tahun dari usianya ia habiskan untuk meliput Perang Vietnam. Hasilnya adalah sebuah buku Nothing, dan So Be It (1969), yang hingga kini masih terjual laris. Fallaci juga terjun meliputi konflik di Mexico, dan sempat cedera karenanya, lalu menjadi koresponden untuk meliput Perang Irak-Kuwait di usia 61.

Fallaci juga terkenal sebagai political interviewer yang kontroversial. Saat mewawancara para pemimpin dunia, ia kerap berlaku bak interogator yang tak kenal ampun. Ia mengajak Kissinger berdebat tentang perang Vietnam. Ia membuka cadarnya di depan Khomeini, padahal itulah syarat jika ia ingin bertemu dengan pemimpin Iran itu.

Gaya Fallaci itu mengundang kontroversi di dunia jurnalistik. Sementara mayoritas jurnalis percaya bahwa kerja-kerja kewartawanan mesti dilakukan secara obyektif dan netral, ia malah mengedepankan subyektivitas dan keberpihakan.

 

Klik untuk terus membaca

Published May 4th, 2011 by

Musim semi adalah saat terbaik untuk mati. Bisa jadi, dalam hasrat bunuh dirinya, masih terlintas di benak José María Arguedas untuk merancang hari kematian yang puitis. Ia mungkin sengaja memilih 2 Desember 1969, saat bunga-bunga justru bermekaran di kota tempat tinggalnya di Lima, Peru.

Di usia 58 tahun, novelis, penyair, dan antropolog ini menembak dirinya sendiri dalam sebuah ruang kelas kosong di universitas tempatnya mengajar. Dalam suratnya, salah satu alasan yang membuatnya memilih mati adalah perasaan bahwa kariernya sebagai penulis telah tamat. Sebab, ia merasa tak lagi memiliki daya kreatif.

Ia hanya satu dari daftar panjang. Memang, pekerja kreatif lainnya seperti musisi pun rentan terhadap potensi bunuh diri. Tapi ada dugaan, dibandingkan seniman lain, penulis lebih mudah tergoda untuk bunuh diri, sebagai bukti kemampuan mengontrol jalan hidup mereka. Bukankah indah jika bisa merancang kapan momen terindah untuk meninggalkan dunia ini?

Dari waktu ke waktu, sejarah telah mencatat begitu banyak penulis yang memilih bunuh diri. Di wikipedia kita bisa menemukan sekitar 400 nama, jumlah yang masih bertambah dari waktu ke waktu. Daftar ini mulai dari penulis yang karyanya sudah jadi klasik seperti Hemingway, Virginia Wolf, Sylvia Plath, sampai Hunter S. Thompson, pelopor tulisan jurnalistik dengan sudut pandang orang pertama yang masih aktif menulis sampai era 2000-an.

Klik untuk terus membaca

Published May 4th, 2011 by

“Resolusiku tahun ini adalah berhenti membeli buku dan lebih banyak membacanya,” kata wartawan dan penyair Rita Achris suatu kala kepada saya.

Saya terkekeh. Setuju. Pernyataan teman tadi ternyata persis benar dengan apa yang berkecamuk di kepala saya. Sudah sebulan terakhir ini saya puasa membeli buku. Pameran yang baru berlalu sengaja tak saya hampiri, karena ngeri akan kebiasaan belanja buku saya yang tak bekerja berdasarkan deret ukur. Padahal, kemampuan membaca saya hanya berkembang seiring deret hitung. Hasilnya, di rak buku saya sedikitnya ada 20 buku yang belum saya baca tandas (Percayalah pembaca, jumlah mengerikan ini pun sudah saya korting besar-besaran).

Karena itu, ketika membaca ulasan mengenai buku yang kini sedang menghiasi daftar best seller di Prancis, Comment parler des Livres que l on n a pas lus (Bagaimana bicara tentang buku yang belum pernah Anda baca), saya terkejut. Saya merasa mempunyai teman. Ternyata di benua seberang sana ada seorang penulis yang begitu penuh pengertian perihal keadaan saya, pembaca yang lamban ini.

Klik untuk terus membaca

Published May 4th, 2011 by

Manusia memang makhluk yang suka berdalih. Tapi ada tiga kelompok yang paling ahli melakukannya: pengacara, pengutang, dan orang yang ingin menulis.

Pengacara dibayar karena kemampuannya berdalih. Pengutang menggunakan kemampuan yang sama untuk menghindari kewajiban membayar. Sepertinya hanya kelompok ketiga yang tak memperoleh apapun dari berdalih, selain tentu saja perasaan gagal dan semakin tidak berdaya.

Begitu banyak orang mengatakan ingin menulis. Begitu banyak pula alasan yang mereka berikan untuk menjawab mengapa belum juga menulis.

“Saya mesti menunggu mood kalau mau menulis.” (ini dalih paling populer)

“Saya terlalu sibuk, tidak punya waktu.” (ini dalih khas dunia modern)

“Saya tidak punya laptop. Masa’ sih saya harus mengetik di rental yang panas? Selalu muter lagu Rhoma Irama lagi.”(ini dalih generasi melek teknologi)

Hilang mood, writer’s block, kurang fasilitas, tak punya waktu hanyalah cara untuk menghindari menulis. Kita sebenarnya tahu bahwa mood seringkali terbentuk justru setelah berlembar-lembar halaman kosong itu mulai terisi, bukan sebaliknya. Sudah banyak tips menulis yang mengatakan demikian. Tapi tetap saja alasan generik sekaligus paling bisa dimaklumi dimanfaatkan. Persis seperti penduduk Jakarta yang menjadikan macet sebagai dalih keterlambatan.

Klik untuk terus membaca

Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by
Published April 23rd, 2011 by