Published June 28th, 2014 by

Apakah yang terjejak dari suatu perjalanan ?

Pada akhirnya, adalah sekumpulan ingatan tentang kejadian, sensasi indrawi  dan baur perasaan. Perjalanan saya menyusuri Berlin dan beberapa kota lain di Jerman beberapa waktu lalu  membuat saya merenung tentang betapa berharganya memelihara dan merawat ingatan.

Ingatan kerap menjelma makhluk yang licin. Ia bisa memperdaya, mengaburkan apa yang sebenarnya kita alami dengan apa yang kita yakini kita alami. Mengaburkan detil-detil yang perlu. Mendesakkan serpihan fakta ke sudut-sudut benak.   Habis ingatan, terbitlah lupa.

Manusia melakukan berbagai cara untuk melawan lupa. Semua orang pernah mengalami lupa dan tahu itu bisa jadi bencana.  Di tingkat individu, lupa memiliki dampak dengan rentang yang luas, mulai dari sekadar gusar, hingga membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Lupa secara kolektif, seperti yang kerap terjadi di Indonesia bisa menjadi petaka bagi masa depan bangsa. Figur-figur yang telah bertindak zalim, masih berani mengajukan diri menjadi pejabat publik, karena orang lupa pada kesalahan yang mesti mereka pertanggungjawabkan. Sejumlah kasus pelanggaran HAM seolah terkubur, dan para pelaku utamanya masih dapat melenggang bebas tanpa sanksi. Ya, itulah bahaya nyata dari lupa.

Bagi bangsa Jerman nampaknya ingatan adalah harta yang sangat berharga. Ini terlihat dari segala daya upaya mereka merawat sejarah dengan apik. Di Berlin saja, ada lebih dari 170 museum dan galeri yang tentu tidak murah biaya pemeliharaannya, padahal cukup banyak yang dapat dimasuki  gratis. Dan cara mereka memelihara ingatan buruk setara dengan cara mereka menghargai ingatan baik.

Holocaust, pembantaian jutaan orang Yahudi dan kelompok lain yang dibenci Nazi adalah luka bagi banyak warga Jerman. Di sini, kita mungkin bisa enteng mencandai Jerman sebagai ‘negara Hitler’. Tapi kata-kata itu mungkin dapat menyakiti teman Jerman kita. Bisa dibayangkan, tidak mudah menerima kenyataan bahwa di masa lalu, bangsa kita membunuh jutaan orang hanya karena ras mereka, dan seluruh dunia mencatatnya.  Itu aib sejarah yang mesti mereka tanggung sepanjang masa. Generasi muda mereka pun menggugat generasi sebelumnya, terlebih yang  seharusnya bisa menjadi bagian dari perubahan saat itu. Mengapa kalian diam saja? Mengapa kalian membiarkan kekejaman genocide itu terjadi?

Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, dan Jerman tampak menyadari hal itu.  Betapapun kelam bagian tertentu dari sejarah mereka sebagai bangsa, mereka tidak hendak melenyapkan ingatan yang menyakitkan itu.

“Wow, untuk sejarah yang mereka malu mengingatnya saja, begitu sungguh-sungguh mereka memeliharanya!” ujar Anuradha, rekan saya seorang wartawan dari Calcutta, India saat kami mengunjungi Sachsenhausen Memorial and Museum di Oranienburg, 35 km dari Berlin.

Sachsenhausen dulunya adalah salah satu kamp konsentrasi yang utamanya digunakan menyekap tahanan politik. Sedikitnya ada 200 ribu orang yang pernah ditahan di sana dari tahun 1936 hingga pertengahan 1945. Saat kamp ini ditutup pada musim semi 1950, ditemukan lebih dari 12 ribu mayat korban yang tewas karena kondisi kurang gizi maupun penyakit.

Setelah reunifikasi Jerman, kamp ini dijadikan museum dan galeri. Beberapa bangunan masih bertahan atau direkonstruksi ulang, termasuk menara pengawas, oven krematorium tempat membunuh para tahanan, barak tempat tahanan harus tinggal berdesakan dan gerbang masuk lengkap dengan slogan yang terasa sinis Arbeit Macht Frei—kerja akan membebaskan dirimu mengingat bagaimana ribuan orang Yahudi harus bekerja paksa yang tak jarang mengantarkan mereka pada maut.

Di museum ini Anda dapat melihat bagaimana detilnya mereka merawat kenangan.  Anda bisa memiliki bayangan tentang seperti apa hidup para tahanan saat itu melalui berbagai foto, dokumen dan artefak, seperti baju penjara dan alat-alat kerja paksa yang digunakan para tahanan.

Kisah-kisah  kekejaman kamp konsentrasi sudah begitu sering kita dengar baik dari dokumentasi sejarah maupun dituangkan ke dalam medium fiksi. Namun menjejakkan kaki di atasnya, merabai dinding barak berwarna abu-abu dan menghirup aroma apak ruang tahanan, akan membuat Anda merasa lebih dekat lagi dengan kisah hidup ratusan ribu anak manusia yang pernah berada di sana dengan segala kepedihan dan sisa-sisa harapan.

Salah satu yang paling mengharukan adalah sebuah surat yang ditemukan pada tahun 2003 oleh seorang pekerja yang sedang merenovasi bangunan.  Saat hendak meruntuhkan sebuah dinding partisi di lantai dasar, di antara pecahan kaca, sang pekerja menemukan kertas lapuk berwarna kekuningan.   Surat itu ditulis Anton Engeraman yang lahir 6 Oktober 1902.

Aku ingin kembali ke rumah lagi. Sejak 9 Maret 1937 aku berada di kamp konsentrasi Sachsenhausen. Hari ini adalah 19 April 1944. Kapankah aku bisa bertemu kekasihku di Frechen Cologne, meski hanya sekali lagi ? Tapi semangatku tak terpatahkan. Hal-hal akan menjadi lebih baik…”

Surat yang kembali mengingatkan saya. Ada seribu satu cerita yang unik dan sangat pribadi di balik setiap jiwa. Dan betapa cinta dan harapan masih dapat dihidupkan, bagaimanapun buruknya situasi yang dihadapi seseorang, meski akhirnya pun ia tak dapat bertahan.

Untuk menghidupkan ingatan akan sebanyak mungkin korban Holocaust, ada beberapa cara yang dilakukan. Di antaranya bisa ditemukan di beberapa sudut kota Berlin, yaitu tulisan nama-nama korban pada lempeng logam yang ditanam di jalan. Hal serupa—mengabadikan nama korban dan tempat terbunuhnya juga sempat saya temui di Hamburg. Semua memberikan pesan betapa setiap korban patut dihormati dan dikenang.. Tak semua korban bisa terabadikan. Tapi setiap nama yang diukir setidaknya menjadi upaya mengingatkan ia bukan hanya angka. Nyawanya bukan sekadar menambah satu lagi garis turus pada data statistik. Di balik nama itu ada segenap cerita perjalanan, cinta dan perjuangan anak manusia.

Bangunan yang juga sempat saya kunjungi adalah Deutscher Bundestag atau Gedung Parlemen Jerman. Gedung  yang berdiri  pada 1894 ini  pernah dibakar dan diduduki pasukan Rusia pada masa Perang Dunia II. Jika sempat bertandang ke Bundestag, Anda akan melihat bagian dinding yang penuh berisi coretan ekspresi curhat, seperti yang kerap dilakukan pemuda iseng di belahan dunia manapun. Ya, inilah ungkapan ekspresi para tentara Rusia ketika ditugaskan di Jerman. Bahkan coretan-coretan yang juga tak bernilai estetik ini sengaja dipertahankan tetap ada di sebuah gedung yang sangat penting dan berwibawa untuk suatu negara.

Masih banyak lagi cara bangsa Jerman mengabadikan sejarah yang mudah membuat kita terpukau.  Mereka mengumpulkan sekecil apapun yang tersisa baik serpihan benda maupun keping cerita yang dapat digunakan untuk merekonstruksi sejarah dan melindunginya tergilas lekang waktu.

Melihat bagaimana rapi dan apiknya bangsa Jerman merawat ingatan akan sejarah kelam mereka, mau tak mau membuat saya bercermin tentang negeri sendiri. Bagaimanakah Indonesia menghadapi sejarah kelamnya? Apakah orang Indonesia termasuk saya sendiri, sudah mampu menatap borok di muka, tanpa harus meretakkan cerminnya? Ataukah kita berusaha meredamnya, dan berharap dengan tidak membicarakannya terang-terang, waktu akan menguburnya begitu saja?

Pertanyaan itu mendesak jantung saya lebih kuat saat menjejakkan kaki di instalasi Memory Void di Jewish Museum Berlin. Ini adalah suatu jalur yang diisi 10 ribu lempengan besi menyerupai muka manusia dalam beragam ukuran. Pengunjung dipersilakan berjalan di atasnya, menginjak wajah-wajah itu hingga menimbulkan suara besi bergesekan yang memekakkan telinga, seolah menjadi pesan tegas untuk tidak pernah mengabaikan suara mereka.  Menashe Kadishman, seniman Israel mempersembahkan karya ini bukan hanya untuk orang Yahudi yang menjadi korban Holocaust, tapi kepada semua korban kekerasan dan perang.

Saya pun tak bisa tak teringat korban kekerasan di tanah air sendiri, yang begitu banyak jumlahnya, dan jarang jelas siapa yang harus bertanggung jawab atasnya.

Salah satu yang paling mencolok dalam sejarah kita adalah pembantaian dan penahanan jutaan orang di seluruh Indonesia yang dituding sebagai anggota Partai Komunis Indonesia pada 1965 dan pembiaran kolektif yang terjadi setelahnya. Selama rezim orde baru, cerita-cerita ini memang diredam sedemikian rupa. Di era reformasi, fakta-fakta sejarah masa lampau mulai kembali digali dan para korban yang masih hidup pun mulai berani bersuara. Namun tampaknya masih harus menunggu untuk sikap yang lebih tegas dari pemerintah berupa permintaan maaf resmi dan pemberian kompensasi atas kerugian materil dan immaterial yang dialami para korban dan keluarganya.

Upaya Komnas HAM melakukan penyelidikan terhadap peristiwa 1965 patut mendapat apresiasi tinggi. Setelah melakukan penelusuran sejak 2008 dan mengumpulkan keterangan lebih dari 300 saksi di seluruh Indonesia, Komnas HAM menyimpulkan terdapat bukti permulaan yang cukup akan terjadinya pelanggaran HAM berat sepanjang 1965-1966, antara lain pembunuhan, penganiayaan, perkosaan, perbudakan.  Seorang politisi mengomentari hasil temuan ini dengan “ya sebenarnya hal ini sudah menjadi rahasia umum” . Namun tampaknya banyak orang Indonesia seperti saya, yang menyadari ada sesuatu yang salah di sekitarnya tapi tidak melakukan banyak hal untuk mengubahnya.

Dari sekadar rahasia umum berubah statusnya menjadi temuan resmi yang akan diproses secara hukum. Mungkin masih cukup jauh mengharapkan bangsa ini bisa secara sejati mengakui peristiwa 1965 sebagai bagian kelam, lalu mereka-ulang sejarah untuk memastikan kejahatan kemanusiaan itu tak lagi terulang.  Namun penyelidikan yang dilakukan Komnas HAM merupakan langkah yang penting untuk mengembalikan ingatan bangsa ini yang amat mudah tergerus gelombang peristiwa yang terus menerpa.

Ya ingatan adalah makhluk yang licin. Jika kita tak cepat menangkapnya, ia akan tergelincir dan melesat dengan mudah dari genggaman. Padahal manusia yang tidak belajar dari sejarahnya, hanya akan jatuh di lubang yang sama dua kali.

Perjalanan saya kali ini, kembali menyadarkan saya betapa pentingnya manusia mencatat kehidupannya. Lupa memang mekanisme alamiah manusia yang tak terhindarkan, namun merawat ingatan –baik maupun buruk—menjadikan kita sebagai manusia yang siap menerima diri seutuhnya dan belajar dari masa lalu. Lebih dari itu, juga dapat menjadi pembelajaran berharga bagi manusia lain dan generasi penerusnya.

Apa yang tersisa dari suatu kehidupan?

Pada akhirnya adalah sekumpulan ingatan, tentang peristiwa, orang-orang dan hal-hal yang kita temukan di antaranya. Sesuatu yang kerap kita namakan pengalaman. Mencatat dan merawat ingatan adalah cara sederhana kita meninggalkan warisan.

Dan menjadikan kita mendekat pada keabadian.

Published June 28th, 2014 by

Langit masih biru cerah di luar sana,  namun saya menelusup ke balik selimut dengan tubuh gemetar. Ada nyeri tak diundang yang tiba-tiba menyergap dada.  Saya merabanya, mencoba menemukan muasal rasa sakit itu sebenarnya. Ngilu terasa jauh di balik kulit, di dalam rongga tak berdasar, di suatu tempat yang entah dimana.

Meringkuk bak bayi dalam rahim, saya mulai merasakan suhu tubuh meningkat, seperti orang yang demam. Sejurus kemudian, pipi saya mulai basah dengan gerimis air mata yang turun lamat-lamat.

Dua puluh menit sebelumnya, kekasih  saya baru mengakhiri hubungan kami.

Saya 29 tahun ketika itu, sebagaimana banyak orang sebaya, berdebar memasuki zona baru usia 30-an dengan target-target tertentu yang dibebankan diri maupun lingkungan sosial.  Dan saat itu, untuk pertama kalinya saya  mantap mengatakan ‘ya’ terhadap pernikahan. Dia seorang lelaki ‘sempurna’. Ganteng, super cerdas, perpaduan insinyur dan musisi, serta tergila-gila pada saya sebagaimana sebaliknya.  Saya merasa akhirnya mendapatkan lelaki impian. Lelaki yang membuat saya mengatakan : ini sebabnya tak pernah berhasil dengan pria lainnya.

Saya bertemu si Tuan Sempurna, hanya tiga bulan setelah putus dari pacar sebelumnya. Dunia saya belum sepenuhnya tertata,  setelah mengakhiri hubungan 4 tahun dengan seorang lelaki pemimpi. Sepaket dengan itu,  tamat pula kemitraan kerja yang bertahun-tahun kami rintis,  dimana saya sudah mencurahkan pikiran, waktu dan uang.  Memutuskannya bukan pilihan mudah dan saya benci menyakiti orang lain. Perpisahan tak pernah mudah bahkan bagi orang yang menginisiasinya.

Si Tuan Sempurna datang pada saat yang sempurna melalui serangkaian cara yang terlalu tepat untuk suatu kebetulan. Dalam waktu singkat kami saling jatuh cinta. Di usia yang sama-sama matang kami sepakat tak ingin berlama-lama pacaran. Maka mulailah kami merancang rencana bersama. Si dia memaparkan visi hidupnya, membuka besaran gajinya, dan mulai menghitung jumlah cicilan rumah serta kendaraan. Saya tetap mendorong hasratnya untuk melanjutkan sekolah seraya menyesuaikan skenario hidup sendiri ke dalam kerangka hidup berdua.  Tidak lupa mulai merancang rencana acara resepsi pernikahan kami.

Segalanya terasa cocok di hati, sekaligus masuk akal. Terlalu sempurna.  Dia menyebut saya  program komputer yang khusus didesain untuknya. Sedangkan saya harus mati-matian mengatasi ribuan kupu-kupu di dalam perut setiap kali kami berjumpa. Mereka yang pernah jatuh cinta pasti paham rasanya. Itulah ketika kau tak bisa berhenti tersenyum dan semua lagu romansa terasa tercipta untukmu.

Si Tuan Sempurna pun memiliki gita khusus untuk saya, milik Beatles yang ia lantunkan, rekam dengan ponsel dan kirimkan pada saya sebagai sebuah permohonan :  Step inside love…. And stay…

Ya, saya melangkah ke dalam cinta. Meski hanya untuk terluka.

*******

Apakabar kamu?

Ketikan itu muncul di yahoo messanger saya dengan tiba-tiba saat saya sedang berjuang menyelesaikan tenggat artikel majalah pekan itu. Dan pertanyaan itu datang dari mantan saya, 4 hari setelah ia mengakhiri hubungan kami.

Bagi saya situasinya sama dengan seseorang meninju orang lain sampai bonyok, lalu beberapa hari berikutnya datang menanyakan kabarnya. Rasanya saya ingin berteriak “kamu sama sekali tidak berhak menanyakan kabarku!”

Saya merasa marah sekaligus merindukan dirinya. Tapi lebih dari itu saya marah kepada diri sendiri karena masih mendambakannya.  Sebagai orang yang diputuskan hubungan, saya dengan mudah terjerumus pada perasaan ditolak yang terasa menyakitkan. Orang yang tadinya memuja saya sedemikian rupa dan memperlakukan saya bak putri, tiba-tiba ‘mencampakkan’ saya begitu saja. Harga diri saya merosot drastis ke titik rendah. Saya merasa tidak berarti.

Penyesalan menyerang bertubi-tubi. Saya menyesali hal-hal yang saya lakukan, dan tidak saya lakukan. Berulang kali saya memutar rekaman di kepala, berharap saya melakukan pilihan yang berbeda. Ribuan andai-andai yang membunuh saya pelan-pelan.

Untuk beberapa waktu, pagi tidak menawarkan harapan bagi saya. Saya kerap terbangun dengan perasaan hampa dan bergerak lamban seperti burung dengan sayap terluka.

Kabar buruk sekaligus kabar baiknya, dunia  berjalan biasa-biasa saja. Sementara jagat kecil saya kocar kacir, kehidupan di luar sana terus  berputar .  Saya jadi membayangkan tikus putih laboratorium dalam pusaran roda.  Ia tak henti-henti berlari, karena itulah satu-satunya cara untuk selamat di putaran permainan.   Seperti itulah, saya.

Hidup saya terus berlangsung dengan segenap aktivitas dan pekerjaan sehari-hari. Bekerja sebagai wartawan suatu majalah memaksa saya bertemu dengan banyak orang, baik untuk undangan konferensi pers, meliput event atau mewawancara nara sumber. Di luar pekerjaan, hidup saya pun secara umum berlangsung normal. Bertemu teman-teman, berkomunitas, melakukan pelayanan masyarakat. Semua berjalan seperti biasa.

Sedapat mungkin saya selalu berusaha berwajah cerah meskipun tidak selalu berhasil. Di dalam,  saya serupa  balon berisi air yang  siap meletus kapan saja. Rasanya jadi mudah berempati dengan lagu sedih ataupun kisah sedih baik nyata maupun fiksi.  Tinggal konversikan saja rasa sakit di dada sesuai dengan derajat kehilangan yang dialami orang lain. Bum, balon air pun pecah dengan mudah.

Ada yang mengatakan, para seniman termasuk penulis adalah orang-orang yang mahir mentransformasi kesedihan menjadi energi kreatif. Sayangnya, saya tidak termasuk di dalamnya. Patah hati justru cenderung membuat  saya lumpuh.. Saya sanggup merampungkan pekerjaan yang mensyaratkan ketrampilan dan keahlian , tapi biasanya saya tidak akan dapat menghasilkan karya yang merupakan buah kreativitas.

Kondisi itu membangkitkan kemarahan dalam diri sendiri.  Saya marah karena merasa sedih, lebih lama dari yang saya targetkan.  Saya malu kepada diri sendiri dan dunia,. Di saat ratusan juta orang di muka bumi mesti bertaruh nyawa bergelut dengan perang dan kemiskinan, saya malah menangisi orang yang  jelas-jelas tidak memilih saya. Ketika banyak orang berjuang keras demi orang lain—keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia—mengapa saya malah tenggelam dengan hal kecil bernama patah hati?

Pikiran itu membuat saya frustrasi.  Saya marah karena rasa sakit yang sukar sirna. Saya marah karena saya mengharapkannya kembali. Saya marah karena saya marah Tanpa sadar, saya sedang memukuli diri sendiri.

*******

 

Diakui atau tidak, dunia kerap tidak membiarkan kita punya cukup waktu memeluk pengalaman patah hati kita.

Memang, tak terhitung banyaknya lagu ataupun film yang tercipta tentang patah hati, yang dapat  dinikmati  sambil menangis dan tertawa di saat yang sama. Tapi secara umum memperlihatkan ‘luka-luka perang’ akibat patah hati, bukanlah pilihan yang dianggap keren.  Menampilkan kerapuhan dengan jujur, umumnya akan dianggap kecengengan. Maka kebanyakan  penderita patah hati akan mati-matian menampilkan diri mereka yang tegar, rasional, dan sanggup pulih dalam waktu singkat.

Patah hati memang kehilangan yang tak seberapa, dibandingkan misalnya ditinggalkan orang yang kita cintai untuk selama-lamanya, apalagi dengan cara tragis. Patah hati juga bukan penyakit atau cedera yang dampaknya terlihat langsung pada fisik seperti patah kaki. Tidak ada pasien yang harus dioperasi karena patah hati. Tidak ada pengidap patah hati yang diopname, lalu dijenguk keluarga dan kerabat. Betapa tak lazimnya, jika seseorang mengajukan cuti kepada kantornya dengan alasan patah hati.

Namun sebenarnya, patah hati memang bisa sama dengan patah kaki.

Setidaknya itu yang diperlihatkan suatu penelitian di Universitas Columbia AS terhadap sejumlah lajang yang mengalami putusnya hubungan dalam jangka waktu kurang dari 6 bulan. Dengan menggunakan scan functional magnetic resonance imaging (fMRI), peneliti memantau daerah mana dari otak peserta yang menyala sewaktu melihat foto mantan  sambil mengenang pengalaman mereka berdua. Para peneliti membandingkan saat peserta diperlihatkan foto teman-teman mereka dan diberikan rasa sakit dengan ditempelkan probe panas pada lengan.

Ilmuwan menemukan bagian-bagian otak yang sama juga menyala ketika individu melihat foto mantan dan saat sedang mengalami sakit secara fisik, tetapi tidak saat mereka melihat foto teman. Daerah otak ini, termasuk insula dan korteks anterior cingulate yang diketahui terkait dengan pengalaman nyeri.

Otak kita tampaknya memproses putus hubungan dengan cara yang sama dengan merespon rasa sakit fisik. Mungkin ada alasan evolusioner untuk ini. Fungsi rasa sakit adalah mengingatkan orang terhadap bahaya sehingga dia bisa mengambil tindakan protektif. Di dalam dunia hewan, kemungkinan suatu makhluk menyelamatkan diri dari predatornya  akan jauh lebih besar saat ia menjadi bagian dari kelompok, dibandingkan sendirian. Penolakan sosial mungkin menjadi ancaman nyata bagi kehidupan fisik para leluhur awal kita. Jika benar, ini mungkin dapat menjelaskan betapa sulitnya bagi banyak orang, ketika orang yang dicintai memutuskan hubungan mereka.

Sakit jasmani kerap menyadarkan begitu sedikitnya pengetahuan saya terhadap tubuh sendiri. Demikian juga halnya dengan situasi-situasi yang menempa ruhani. Pikiran dan reaksi spontan yang muncul bisa membuat saya terkejut sendiri. Saya tersadar memang tak pernah sepenuhnya benar-benar mengerti mekanisme dan proses  yang terjadi di dalam diri. Pengalaman patah hati sebagai contohnya adalah sesuatu yang universal, sekaligus sangat personal. Mungkin hampir setiap individu pernah mengalaminya, tapi selalu ada relung-relung diri yang tak terjangkau oleh orang lain.

Bagi saya,, kepedihan dalam bentuk apapun adalah kesempatan mengeksplorasi fakultas rasa. Dan meskipun tak enak, rasa sakit berguna membantu mengasah kepekaan kepada sekeliling  dan memperkaya saya sebagai seorang manusia. Ibarat sebuah patung, ia tak akan mendapatkan ukiran yang indah jika dipahat dengan alat yang tumpul. Begitulah saya membayangkan, setiap ujian hidup yang saya alami  sedang memahat saya menjadi manusia yang lebih indah.

Anda akan menemukan saya mengeluh dan menangis ketika hidup sedang ‘memahat’ saya dengan tajam. Tapi di akhir hari, saya akan selalu bangkit dan mengatakan dengan bangga ‘saya telah mengalami dan belajar  banyak hal’. Pengalaman patah hati telah mengajari saya tentang  empati  dan yang tak kalah penting, penerimaan tanpa syarat terhadap diri sendiri.

Saya tidak hendak berbagi banyak cara mengatasi patah hati. Hanya dua aturan yang selalu saya latih untuk diri sendiri. Pertama,  berhenti memukuli diri dan berikanlah kesempatan baginya untuk sembuh. Patah hati sebagaimana patah kaki, membutuhkan waktu tertentu hingga pulih seperti sedia kala. Setiap orang punya waktu yang berbeda-beda untuk sembuh, bahkan terhadap masalah yang sama. Itu adalah ruang pribadi Anda sepenuhnya. Pada saat sulit, mungkin ada baiknya menghindari orang-orang dekat yang tak sabaran. Saya sendiri punya seorang sahabat yang sangat menyayangi saya, tapi sekaligus tidak telaten menangani saya dalam situasi patah hati. Jika Anda juga memiliki yang seperti ini, lebih baik menjauhkan diri dari mereka untuk sementara waktu. Mereka tidak akan membantu.

Itu bukanlah salah Anda, maupun mereka.

Dalam dunia fisik, Anda tidak semestinya jogging bareng bersama orang sehat, jika kaki Anda memang masih mengenakan pan. Sesederhana itu. Hanya saja dalam alam non fisik,luka hati ini tak terlihat. Anda yang tahu ukuran Anda sendiri, dan lakukan apapun yang dirasakan perlu untuk melindungi diri Anda.. Tergesa-gesa dan tidak sabaran, seperti yang kerap saya lakukan, tidak akan membawa kita kemanapun selain frustrasi yang semakin besar.

Namun, ini yang kedua.  Saya  tidak menganjurkan siapapun untuk tenggelam dalam rasa mengasihani diri yang berlarut-larut.  Banyak orang tanpa mereka sadari, ‘memanjakan’ diri terlalu lama mengakrabi luka hati.  Masih memantau perkembangan mantan melalui media sosial, mendengarkan lagu-lagu melankolis,, mendatangi tempat-tempat yang bisa mengingatkan adalah beberapa racun yang membuat proses kesembuhan menjadi lamban.

Saya pernah melakukannya, sampai kemudian muak pada diri sendiri.  Jadilah super selektif tentang apapun yang masuk ke dalam pikiran Anda, meskipun itu berarti memblokir sang mantan di semua media sosial. Tidak usah takut merusak silaturahim. Berteman segera setelah putus hubungan bukan kewajiban bagi siapapun. Tidak perlu berpura-pura segalanya baik-baik saja. Jadilah pragmatis, nomorsatukan diri Anda, dan  lakukan apa saja yang menurut Anda perlu.

Jika diperlukan aturan tambahan, kembali lagi ke nomor satu.

Selebihnya semua terpulang kepada Anda. Nasihat mengatasi patah hati yang beredar di berbagai media, mungkin berguna. Tapi Anda dan saya membutuhkan cara yang unik, personal dan terkustomisasi hanya untuk kita. Tidak ada yang salah ataupun benar, hanya ada cocok atau tidak. Bahkan pengalaman patah hati untuk orang yang sama pun bisa jadi berdampak lain saat terjadi di waktu berbeda.

Karena seiring waktu, kita sendiri tak pernah sama lagi.

*******

Kala itu suatu sore di bulan Ramadhan. Saya punya janji buka bersama dengan mantan saya, si Tuan Sempurna. Hampir 2 tahun berlalu sejak terakhir kali kami bertemu, yaitu saat ia memutuskan hubungan dengan saya.

Saya tiba lebih dulu di tempat yang sudah disepakati sehingga masih sempat mempersiapkan diri. Entah apa yang ingin saya persiapkan sebetulnya. Ego saya mengatakan saya mesti tampil cantik dan ceria, selayaknya perempuan paling berbahagia di dunia ini. Supaya mantan saya melihat, hidup saya bahkan semakin baik setelah dia pergi.

Sebenarnya, hari itu saya hampir membatalkan janji pertemuan kami, karena tak yakin bisa datang dalam keadaan baik. Beberapa minggu sebelumnya, hubungan asmara saya dengan pria setelah si Tuan Sempurna, baru  berakhir. Resminya, lelaki itu yang memutuskan hubungan kami. Faktanya, hubungan kami sudah berakhir sejak pertama dimulai. Kami berbeda agama., suatu perbedaan yang terlalu sulit untuk dijembatani. Tapi kami saling jatuh cinta, dan memilih bertumbuh bersama seberapapun waktu yang kami punya.

Kami menikmati saat-saat yang bahagia hingga menurut dia, waktunya sudah tiba. Hubungan kami toh harus berakhir, cepat atau lambat. Mengetahui karakter satu sama lain, memang sudah tugasnyalah mengakhiri hubungan kami. Di saat yang sama, dia mendapatkan kemungkinan membangun hubungan dengan perempuan lain yang seagama. Sebagaimana kesepakatan kami di awal, dia harus menjemput peluang itu: pasangan yang lebih bermasa depan. Secara logika, saya sadar inilah risiko yang mesti saya tanggung. Tapi ternyata itu tak membuat saya terbebas dari perasaan  kehilangan dan tak berdaya.

Dengan perasaan yang masih koyak, saya lanjutkan janji pertemuan hari itu.

Sempat terpikir, akankah  saya merasa lebih baik jika setelah 2 tahun si Tuan Sempurna sudah berubah menjadi lelaki berperut tambun dengan gerakan lamban? Mungkin ego saya akan bersorak melihat figurnya yang tak lagi menarik. Tapi bayangan itu segera saya hapus, selain karena  tahu itu tidak mungkin (saya kenal gaya hidupnya), saya pun sadar memanjakan ego tak akan membawa saya kemana pun.

Lalu dia datang. Masih seperti Tuan Sempurna yang pertama kali saya kenal. Ganteng, dengan tubuh ramping yang menjulang. Dia masih semenarik yang bisa saya kenang. Kami duduk berdampingan dan bercakap-cakap selayaknya teman lama. Dia masih mendengarkan saya dengan caranya yang khas dan atentif. Entah apa yang ada dalam kepalanya, saya tak ingin menduga-duga, Kami berbincang beberapa jam, saling update hidup satu sama lain. Masih saling dukung mimpi satu sama lain. Usai pertemuan ia menawari mengantar saya pulang, semata karena kesopanan dan kemurahan hatinya. Sangat terduga. Saya pun melancarkan penolakan yang sudah terencana.

Di pengujung hari itu,  saya sadar sudah sepenuhnya sembuh dari luka hati karena berakhirnya hubungan sempurna saya dengan si Tuan Sempurna. Tak ada kemarahan, tiada penyesalan. Saya sudah memaafkan dirinya karena tidak mencintai saya apa adanya, dan lebih dari itu, mengampuni diri saya yang pernah merasa gagal karena tak bisa menjadi sempurna untuknya. Kami hanyalah dua orang yang ditakdirkan untuk saling berpapasan di satu titik tertentu kehidupan, untuk saling menempa dan membentuk satu sama lain.

Pertemuan kami melahirkan rasa lega dalam diri saya. Namun di saat yang sama, saya masih memulihkan luka kehilangan karena putusnya hubungan saya yang terakhir. Saya pun merasakan geli yang getir, ketika menyadari hidup saya hanya bergerak dari kehilangan yang satu ke kehilangan yang lainnya.

Belajar dari pengalaman, hanya tinggal masalah waktu hingga saya bisa melihat ke belakang dan mengkhitmati segalanya. Kehilangan adalah bagian yang begitu lekat, dan tidak terpisahkan dari kehidupan. Suka tidak suka, perpisahan adalah suatu keniscayaan yang hadir di detik pertama perjumpaan, dengan satu atau lain cara. Jika bukan faktor manusia, suatu saat nanti maut pun akan memisahkan setiap kita.  Yang bisa saya lakukan adalah menikmati apapun yang masih ada dalam genggaman, dengan cara yang terbaik yang saya bisa.

Menyambut pertemuan. Mengikhlaskan kepergian.

Merayakan Kehidupan.

Published August 9th, 2012 by
Published August 9th, 2012 by
Published August 9th, 2012 by

Clara’s Medal adalah kisah 16 remaja Indonesia yang akan berlaga di Olimpiade Fisika Internasional. Novel ini terinspirasi dari kisah nyata pengalaman pelajar Indonesia yang digembleng di Tim Olimpiade Fisika (TOFI) binaan fisikawan Prof Yohanes Surya, yang juga mempopulerkan istilah Mestakung atau Semesta Mendukung.

Dalam pengertian sederhana, Semesta Mendukung adalah suatu keyakinan atau prinsip bahwa jika kita menginginkan sesuatu,dan kita meletakkan diri kita dalam situasi kritis, alam akan merekayasa ulang dirinya untuk mewujudkan keinginan kita. Prof Yohanes Surya memaparkan fenomena-fenomena fisika sebagai suatu bukti dari prinsip Mestakung ini dalam bukunya berjudul Mestakung

Menulis Clara’s Medal adalah tantangan tersendiri buat saya, salah satunya karena Fisika bukan pelajaran favorit saya. Sedangkan saya ingin ini menjadi buku yang bisa dinikmati oleh semua kalangan usia, berbobot, namun ringan.

Untuk informasi lebih jauh tentang Clara’s Medal bisa dilirik di blog clarasmedal.blogspot.com

Published February 23rd, 2012 by

pms

Lebih dari 80% masalah saya, apakah itu secara fisik , perasaan maupun pikiran biasanya teratasi –minimal menjadi lebih ringan—dengan tidur.  Masalahnya sendiri tidak berubah, tapi saya yang lebih segar dan terpulihkan energinya. Untungnya, saya jarang susah tidur. Kalau sedih atau ruwet saya tetap bisa tidur dengan nyenyak. Saya cenderung sulit tidur kalau terlalu banyak hal atau gagasan baru dan jika saya sedang berpindah tempat tidur saat tugas atau traveling. Tapi kalau sudah terlalu capek biasanya tetap tidur juga sih. Terberkahilah orang-orang yang tak punya masalah tidur.